Seputarkasus.id||Surabaya – Asosiasi Jagal dan Pedagang Daging Sapi Kota Surabaya melayangkan kritik keras terhadap kondisi operasional Rumah Potong Hewan (RPH) baru di kawasan Tambak Osowilangun (TOW). Fasilitas yang diproyeksikan menjadi pusat pemotongan hewan modern tersebut dinilai masih jauh dari standar yang dijanjikan dan belum mampu menunjang kebutuhan para jagal secara optimal.
Ketua Asosiasi Jagal dan Pedagang Daging Sapi Kota Surabaya, Abdullah Mansyur, mengaku kecewa setelah menerima berbagai laporan serta melakukan peninjauan langsung di lokasi. Menurutnya, sejumlah fasilitas dan desain operasional yang ada justru berpotensi menghambat proses pemotongan serta berdampak pada kualitas daging yang dihasilkan.
“Kalau melihat kondisi riil di lapangan, tempat ini belum layak disebut sebagai RPH yang representatif. Banyak aspek teknis yang tidak sesuai dengan kebutuhan proses produksi daging yang halal, higienis, dan efisien,” ujar Abdullah Mansyur kepada awak media, Kamis (12/6/2026).
Abdullah memaparkan sejumlah persoalan yang menjadi keluhan utama para jagal, di antaranya sistem pemotongan yang dinilai tidak mendukung pengeluaran darah sapi secara maksimal setelah penyembelihan. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas daging serta berpotensi mempercepat proses pembusukan.
Selain itu, tata letak bangunan juga dianggap kurang efektif. Jarak antara area penyembelihan dan ruang pencacahan dinilai terlalu jauh sehingga memperlambat proses kerja dan menambah beban tenaga para pekerja.
Keluhan lainnya terkait akses masuk menuju area pemotongan yang dinilai terlalu sempit untuk mobilisasi sapi. Para jagal mengaku mengalami kesulitan saat memasukkan hewan ternak ke dalam lokasi pemotongan.
Tak hanya itu, fasilitas penunjang seperti katrol dan troli pengangkat sapi disebut belum berfungsi maksimal. Akibatnya, pekerja harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengangkat karkas setelah proses penyembelihan selesai dilakukan.
Asosiasi juga menyoroti armada pengangkut daging yang disediakan pihak RPH. Menurut mereka, kendaraan yang digadang-gadang menjadi sarana distribusi daging tersebut kondisinya sudah mengalami kerusakan meskipun belum digunakan secara optimal. Jumlah armada yang hanya satu unit pun dinilai jauh dari kebutuhan operasional harian.
Di luar persoalan fasilitas internal, akses menuju kawasan Tambak Osowilangun juga menjadi perhatian serius. Jalur menuju lokasi kerap mengalami kemacetan, terutama pada jam-jam distribusi daging ke pasar tradisional di berbagai wilayah Kota Surabaya.
“Distribusi daging segar sangat bergantung pada kecepatan waktu. Ketika akses menuju lokasi sering macet, pengiriman menjadi terlambat dan kualitas daging berpotensi menurun sebelum sampai ke tangan konsumen,” tegas Abdullah.
Atas berbagai temuan tersebut, Asosiasi Jagal dan Pedagang Daging Sapi Kota Surabaya mendesak Pemerintah Kota Surabaya bersama manajemen RPH untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap fasilitas dan sistem operasional di RPH Tambak Osowilangun.
Mereka meminta adanya audit teknis independen serta dialog terbuka dengan seluruh pemangku kepentingan agar berbagai kekurangan yang ada dapat segera diperbaiki sesuai kebutuhan riil para pelaku usaha pemotongan dan perdagangan daging.
Jika berbagai keluhan tersebut tidak segera ditindaklanjuti, para jagal dan pedagang daging mengaku tidak menutup kemungkinan akan menempuh langkah lanjutan, termasuk menggelar aksi demonstrasi dan penghentian sementara aktivitas pemotongan sebagai bentuk protes terhadap kondisi RPH yang dinilai belum memenuhi komitmen awal Pemerintah Kota Surabaya.
( Red / Ferry )


















