banner 728x250

Pendekatan Unik Dunia Pendidikan, Guru Pelajari Karakter Anak dari Genetika Darah

banner 120x600
banner 468x60

Seputarkasus.id||Surabaya – Workshop pendidikan dengan konsep unik dan inspiratif digelar di BG Junction Mall Surabaya, Jumat (29/5/2026). Kegiatan bertajuk “Mengenal Karakter dan Potensi Anak dari Genetika Darah ABO” ini diselenggarakan oleh Pengurus dan Ketua K3 TK Kota Surabaya, Ibu Oentari Kartikahidajati, M.Pd., bersama Komunitas Guru Pembelajar Indonesia.

Workshop menghadirkan Direktur Golda Institute, Eva Dipanti Tumba, sebagai narasumber utama dan diikuti sekitar 90 peserta yang terdiri dari guru serta pemerhati pendidikan di Kota Surabaya.

banner 325x300

Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi baru dalam dunia pendidikan, khususnya dalam memahami karakter alami dan potensi anak melalui pendekatan genetika dan golongan darah ABO.

Dalam pemaparannya, Eva menjelaskan bahwa setiap golongan darah memiliki karakter dasar, pola pikir, hingga cara merespons lingkungan yang berbeda. Menurutnya, pemahaman tersebut penting dimiliki para guru agar komunikasi dan metode pembelajaran terhadap siswa dapat berjalan lebih efektif.

“Setiap golongan darah memiliki respons berbeda. Ada anak yang aktif dan tidak bisa diam, ada yang tenang, ada juga yang membutuhkan instruksi jelas sebelum mulai bekerja. Ketika guru memahami karakter dasar tersebut, komunikasi dengan murid akan lebih mudah terjalin,” ujar Eva.

Suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta bahkan dikelompokkan berdasarkan golongan darah masing-masing untuk melihat secara langsung perbedaan karakter dan pola kerja saat praktik berlangsung.

Eva memaparkan, pemilik golongan darah O cenderung aktif, energik, dan cepat bergerak. Sementara golongan darah B lebih santai dan nyaman bekerja sesuai ritmenya sendiri. Golongan darah A dikenal memiliki karakter disiplin, profesional, dan menyukai arahan yang jelas. Sedangkan golongan darah AB dinilai cepat memahami sesuatu selama dianggap logis dan masuk akal.

Menurut Eva, masih banyak guru yang mengalami kendala dalam memahami perilaku siswa karena belum mengenali karakter alami yang dimiliki setiap anak.

“Kadang guru merasa sudah menjelaskan dengan runtut, tetapi murid tetap belum memahami. Ternyata ada faktor bawaan dalam diri anak yang belum dipahami, salah satunya genetika,” katanya.

Meski demikian, Eva menegaskan bahwa faktor golongan darah hanya memengaruhi sekitar lima persen dalam pembentukan karakter anak. Faktor terbesar justru berasal dari lingkungan, terutama sejak anak masih berada dalam kandungan.

Ia menilai kondisi emosional ibu saat hamil sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis dan karakter anak di masa depan.

“Anak mulai dibentuk sejak dalam kandungan. Ketika ibu sering mengalami tekanan emosional atau kesedihan saat hamil, hal itu dapat memengaruhi karakter anak. Bahkan kebiasaan ibu seperti membaca buku atau tontonan tertentu juga bisa memengaruhi minat anak nantinya,” jelasnya.

Karena itu, Eva menekankan pentingnya edukasi pranikah dan kesiapan mental calon orang tua sebagai pondasi dalam membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas.

“Jika ingin menciptakan generasi emas, semuanya harus dimulai sejak pranikah. Orang tua perlu memahami genetika serta kesiapan mental sebelum memiliki anak,” ungkapnya.

Workshop ini mendapat sambutan hangat dari para peserta. Mereka menilai materi yang disampaikan membuka wawasan baru dalam memahami karakter dan perilaku siswa di lingkungan sekolah.

Para peserta berharap kegiatan serupa dapat terus mendapat dukungan dari pemerintah maupun institusi pendidikan agar pendekatan pembelajaran berbasis karakter dapat diterapkan lebih luas di dunia pendidikan.

Eva juga mengungkapkan bahwa program genetika darah ABO telah dijalankannya sejak tahun 2012 dan telah hadir di berbagai kota di Indonesia. Setelah Surabaya, workshop serupa dijadwalkan berlangsung di Salatiga dan Semarang.

Menariknya, penerapan ilmu genetika darah ABO tidak hanya digunakan dalam dunia pendidikan, tetapi juga pernah diterapkan di bidang olahraga untuk membantu menganalisis performa pemain sepak bola nasional.

“Selama manusia masih memiliki darah, pendekatan ini bisa diterapkan di berbagai bidang. Karena ini berkaitan dengan cara kerja otak, karakter, dan potensi seseorang,” tuturnya.

Melalui workshop tersebut, para guru diharapkan semakin memahami bahwa setiap anak memiliki karakter, potensi, dan pola belajar yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan yang lebih personal, tepat, dan manusiawi.

( Red / Ferry )

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *