Kediri, Seputarkasus id – Menjelang akhir masa jabatannya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, meresmikan Bandara Dhoho di Kediri, Jawa Timur, sebagai simbol komitmen pemerintah dalam meningkatkan konektivitas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah selatan Pulau Jawa.
Kehadiran bandara ini dianggap sebagai langkah strategis untuk membuka akses transportasi udara di wilayah yang sebelumnya tidak terjangkau, sehingga diharapkan dapat merangsang sektor-sektor ekonomi lainnya, seperti pariwisata, perdagangan, dan industri lokal.
Dalam sambutannya, Luhut menegaskan bahwa Bandara Dhoho bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, melainkan proyek pionir di Indonesia yang menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), sebuah model kolaborasi antara sektor publik dan swasta yang menjadi contoh inovatif bagi proyek-proyek serupa di masa depan.
Bandara yang dibangun oleh PT Surya Dhoho Investama ini diharapkan akan mengurangi ketergantungan masyarakat selatan Jawa pada Bandara Juanda di Surabaya, terutama dengan rencana penghubungan akses tol yang akan mempersingkat waktu perjalanan ke Kediri hingga satu jam.
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, yang turut hadir dalam acara peresmian, mengungkapkan antusiasmenya terhadap potensi besar Bandara Dhoho dalam melayani penumpang, khususnya untuk perjalanan ibadah haji dan umrah.
Rencana pembangunan asrama haji di Kediri juga menjadi salah satu langkah untuk mendukung tujuh kabupaten di Jawa Timur, yang selama ini harus bergantung pada bandara lain yang lebih jauh.
Presiden Direktur PT Surya Dhoho Investama, Istata T. Siddharta, menekankan bahwa Bandara Dhoho adalah “Hadiah untuk Bangsa,” yang didedikasikan untuk memperkuat pembangunan ekonomi nasional. Menurutnya, bandara ini akan menjadi gerbang penting menuju wilayah selatan Jawa Timur, seperti Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Ponorogo, dan Madiun—daerah-daerah yang sebelumnya kurang terakses dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut, baik dari segi infrastruktur maupun ekonomi.
Kehadiran Bandara Dhoho juga diprediksi akan mendorong pemerataan ekonomi di Jawa Timur. Dengan mobilitas yang lebih baik, investor akan lebih tertarik untuk mengembangkan bisnis dan industri di wilayah selatan, mengurangi kesenjangan antara wilayah utara dan selatan Jawa.
Selain itu, bandara ini diharapkan dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata, terutama bagi destinasi-destinasi wisata alam dan budaya di wilayah sekitar Gunung Wilis dan pantai selatan.
Dengan infrastruktur yang semakin berkembang, Bandara Dhoho Kediri diharapkan menjadi simbol transformasi ekonomi yang lebih inklusif dan menyeluruh di Jawa Timur, membuka peluang-peluang baru bagi masyarakat setempat dan memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan ekonomi regional.
Proyek ini tidak hanya memperkuat hubungan antardaerah, tetapi juga menciptakan fondasi bagi pembangunan berkelanjutan di masa depan.
Herman


















