banner 728x250

Kritik Keras Ketua KWI Bojonegoro: Label “Wartawan Perusak” Cermin Krisis Pemahaman Demokrasi

banner 120x600
banner 468x60

 

Seputarkasus.id||Bojonegoro – Pernyataan kontroversial yang dilontarkan salah satu oknum anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dengan menyebut wartawan sebagai “perusak” menuai kecaman keras dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Teguh Imam Waluyo, Ketua DPC Komunitas Wartawan Indonesia (KWI) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

banner 325x300

Menurut Teguh, pernyataan tersebut bukan sekadar keliru, tetapi juga berbahaya karena berpotensi merusak tatanan demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan pers. Ia menegaskan bahwa wartawan bukanlah perusak, melainkan pilar keempat demokrasi yang memiliki peran vital dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas kekuasaan.

“Wartawan bekerja menggali fakta, membuka informasi yang tersembunyi, dan menyuarakan kepentingan publik. Jika ada pihak yang merasa ‘dirusak’, bisa jadi bukan medianya yang bermasalah, melainkan fakta yang terungkap,” tegasnya.

Teguh juga menyoroti ironi di balik pernyataan tersebut yang justru datang dari seorang wakil rakyat. Ia menilai, seharusnya pejabat publik lebih terbuka terhadap kritik, bukan malah menunjukkan sikap defensif yang mencerminkan ketidaksiapan menghadapi kontrol sosial.

Dalam sistem demokrasi, lanjutnya, kritik adalah elemen penting yang berfungsi sebagai pengingat agar kekuasaan tetap berjalan di jalur yang benar. Menyematkan stigma negatif terhadap profesi wartawan, menurutnya, adalah bentuk generalisasi yang mencederai akal sehat publik.

Ia juga mengakui bahwa insan pers tidak luput dari kesalahan. Namun, mekanisme koreksi seperti hak jawab dan kode etik jurnalistik telah tersedia sebagai bentuk pertanggungjawaban profesional. Oleh karena itu, tidak tepat jika seluruh profesi digeneralisasi dengan label yang merendahkan.

Lebih jauh, Teguh mengingatkan bahwa narasi semacam ini berpotensi menjadi legitimasi terselubung untuk membungkam kebebasan pers. Jika dibiarkan, ruang demokrasi bisa tergerus secara perlahan tanpa disadari.

“Publik perlu bertanya, siapa yang sebenarnya merusak? Wartawan yang mengungkap fakta, atau pihak yang tidak siap menghadapi kenyataan?” ujarnya.

Ia menegaskan, pernyataan tersebut harus menjadi alarm bagi semua pihak bahwa masih ada sebagian elite yang belum siap hidup dalam keterbukaan. Selama itu terjadi, wartawan akan tetap berdiri di garda depan, bukan sebagai perusak, melainkan sebagai penjaga kebenaran dan suara publik.

( Red )

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *